Kitab pustaka ini sebenarnya adalah buku pertama dari tiga jilid atau trilogi yang dua diantaranya masih dalam proses panjang hingga usai. Kitab pustaka ini adalah sebuah karya tulisan epik yang memadukan antara unsur religi Buddhisme dengan fiksi fantasi dalam paduan yang sempurna hingga menjadikan karya tulis ini tidak lagi sepenuhnya sebagai novel yang bersifat hiburan semata.
Unsur fiksi fantasi yang digunakan terinspirasi dari pelbagai kisah – kisah legenda yang berasal dari jaman kuno dan bukan fiksi fantasi sembarang dari jaman modern yang tidak memiliki nilai – nilai estetika khusus. Kitab – kitab Sutra Buddhis dan literatur religius Buddhisme dari pelbagai daerah di benua Asia menjadi sumbangan inspirasi terbesar dalam perihal unsur religi untuk karya tulis ini.
Selain itu unsur seni budaya Indonesia yang khas corak klasik jaman kerajaan Hindu Buddha juga turut menjadi elemen estetika yang menyempurnakan detail – detail setting dalam tiap ceritanya. Singkatnya adalah jika kitab pustaka ini bisa diilustrasikan secara radikal dan gamblang sebagai sebuah kitab Mahabharata atau Bharatayudha, namun dalam versi Buddhisme yang khas dan ortodoks, karena hanya unsur Buddhisme khususnya Mahayana yang diperbolehkan di dalamnya.
Unsur budaya Tionghoa juga menjadi elemen akulturasi yang turut menyempurnakan detail – detail setting dalam cerita. Bisa dikatakan juga jika buku pertama, berikut kedua dan ketiganya adalah karya seumur hidup saya tentang pengabdian saya terhadap perkembangan literatur religi Buddhisme di jaman modern ini dan tentunya di negara Indonesia ini.
Setting cerita meskipun mengambil setting di abad 21 ini, namun dengan cara penggunaan gaya bahasa dan pembendaharaan kata - kata yang khusus tetap menjadikan karya tulis ini bercorak sastra yang berbau klasik dan elegan khas jaman kuno yang masih tetap eksis hingga abad 21 ini. Bahasa yang digunakan dalam karya tulis ini tentu saja bahasa Indonesia yang ortodoks sebagai bahasa pokok dalam karya tulis ini. Kendati demikian di ke depannya saya akan membuat konversinya dalam bahasa Inggris ortodoks dan juga bahasa Mandarin melalui bantuan seorang kolega yang saya tunjuk, sebagai dua dari tiga bahasa pokok untuk karya tulis ini.
Penggunaan kata – kata dan istilah khusus berbahasa Sanskerta dan Jawa hingga Mandarin juga ikut disertakan sebagai elemen pelengkap. Penggunaan kata – kata dan istilah berbahasa Indonesia yang tidak ortodoks karena berasal dari ejaan bahasa asing semisal Inggris dan masih tetap terdengar seperti bahasa asing dalam ejaannya, dieliminasi semaksimal mungkin dan saya bisa memastikan jika kumpulan kata – kata semacam ini sudah hampir 98 persen dieliminasi dalam karya tulis ini. Semua itu dilakukan demi menyempurnakan corak khas sastra yang berbau bahasa klasik dan elegan, namun diciptakan di jaman modern ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar