Kitab pustaka ini masih dalam bentuk manuskrip mentah dan dalam file komputer. Namun secara statistik, kitab pustaka ini memiliki panjang cerita lebih dari 500 halaman dalam format kertas A4 dan tipe font Times New Roman ukuran 12 dan spasi 1,5. Seluruh ceritanya dari awal hingga akhir terbagi dalam bab – bab yang berjumlah genap 28 bab. Bab – bab ini nantinya akan saya terangkan secara singkat, berikut pula hal – hal penting mengenai jumlah babnya yang bernilai 28. Rencananya buku ini seharusnya dicetak tidak menggunakan desain art cover khas novel fiksi untuk hiburan atau komersial. Jika buku ini dicetak, ia akan dicetak hanya sesuai desain buku teks untuk kitab Sutra Buddhis yang non komersial dan non hiburan.
Minggu, 17 Juli 2016
Isi buku kitab pustaka ini menceritakan tentang apa?
Dikarenakan terinspirasi dari literatur Buddhisme yang religius, maka kisahnya berawal dari sebuah kerajaan gaib para naga surgawi yang berpusat di pulau Bali sejak ratusan tahun lalu. Kenapa di pulau Bali? Karena hanya di pulau itulah sisa – sisa dari peninggalan corak klasik kerajaan Hindu Buddha masih tetap eksis dan aktif hingga saat ini. Selain itu ada sebuah alasan pribadi dari saya untuk memilih pulau Bali sebagai lokasi setting cerita. Karena kecintaan saya yang teramat sangat terhadap pulau Bali dan seni budayanya mungkin bisa menjadi salah satu alasannya.
Alur cerita yang saya pakai dalam buku ini adalah alur maju dan mundur yang kompleks bentuknya. Berbeda dari tulisan novel saya lainnya yang sederhana dan biasa menggunakan alur maju terus pantang mundur. Tokoh utamanya terinspirasi banyak dari figur para Bodhisatwa dalam kitab Sutra Buddhis dan tokoh utama itulah yang dalam buku pertama ini diceritakan menjadi sosok protagonis pokok dalam cerita. Awal mula cerita dimulai dari kerajaan gaib para naga tadi yang telah dijajah dan dikuasai oleh salah satu dari enam raja para naganya yang telah berubah menjadi iblis jahat.
Untuk bisa memerdekakan kerajaan itu, kelima raja lainnya pun mencari cara untuk memusnahkan raja iblis yang sudah menjajah kerajaan. Sosok protagonis ini pun akhirnya terpilih dan ditakdirkan untuk menjadi pengganti dari raja keenam sekaligus penghancur raja iblis tadi yang juga sekaligus sebagai mantan raja para naga yang keenam. Di akhir cerita tokoh utamanya pun ditahtakan menjadi raja para naga yang keenam oleh seisi kerajaan.
Unsur Buddhisme yang religius dari kitab – kitab Sutra Buddhis menjadi bagian penting dalam membentuk cerita dalam buku ini, sehingga tidak lagi terlalu sulit untuk dipahami secara radikal dan instan jika buku ini adalah bentuk lain dari Mahabharata namun dalam versi Buddhisme yang ortodoks. Mungkin hanya itulah penjelasan yang bisa saya utarakan semampu saya.
Apakah itu kitab pustaka Maharendra Aryanaga Rajanaga?
Kitab pustaka ini sebenarnya adalah buku pertama dari tiga jilid atau trilogi yang dua diantaranya masih dalam proses panjang hingga usai. Kitab pustaka ini adalah sebuah karya tulisan epik yang memadukan antara unsur religi Buddhisme dengan fiksi fantasi dalam paduan yang sempurna hingga menjadikan karya tulis ini tidak lagi sepenuhnya sebagai novel yang bersifat hiburan semata.
Unsur fiksi fantasi yang digunakan terinspirasi dari pelbagai kisah – kisah legenda yang berasal dari jaman kuno dan bukan fiksi fantasi sembarang dari jaman modern yang tidak memiliki nilai – nilai estetika khusus. Kitab – kitab Sutra Buddhis dan literatur religius Buddhisme dari pelbagai daerah di benua Asia menjadi sumbangan inspirasi terbesar dalam perihal unsur religi untuk karya tulis ini.
Selain itu unsur seni budaya Indonesia yang khas corak klasik jaman kerajaan Hindu Buddha juga turut menjadi elemen estetika yang menyempurnakan detail – detail setting dalam tiap ceritanya. Singkatnya adalah jika kitab pustaka ini bisa diilustrasikan secara radikal dan gamblang sebagai sebuah kitab Mahabharata atau Bharatayudha, namun dalam versi Buddhisme yang khas dan ortodoks, karena hanya unsur Buddhisme khususnya Mahayana yang diperbolehkan di dalamnya.
Unsur budaya Tionghoa juga menjadi elemen akulturasi yang turut menyempurnakan detail – detail setting dalam cerita. Bisa dikatakan juga jika buku pertama, berikut kedua dan ketiganya adalah karya seumur hidup saya tentang pengabdian saya terhadap perkembangan literatur religi Buddhisme di jaman modern ini dan tentunya di negara Indonesia ini.
Setting cerita meskipun mengambil setting di abad 21 ini, namun dengan cara penggunaan gaya bahasa dan pembendaharaan kata - kata yang khusus tetap menjadikan karya tulis ini bercorak sastra yang berbau klasik dan elegan khas jaman kuno yang masih tetap eksis hingga abad 21 ini. Bahasa yang digunakan dalam karya tulis ini tentu saja bahasa Indonesia yang ortodoks sebagai bahasa pokok dalam karya tulis ini. Kendati demikian di ke depannya saya akan membuat konversinya dalam bahasa Inggris ortodoks dan juga bahasa Mandarin melalui bantuan seorang kolega yang saya tunjuk, sebagai dua dari tiga bahasa pokok untuk karya tulis ini.
Penggunaan kata – kata dan istilah khusus berbahasa Sanskerta dan Jawa hingga Mandarin juga ikut disertakan sebagai elemen pelengkap. Penggunaan kata – kata dan istilah berbahasa Indonesia yang tidak ortodoks karena berasal dari ejaan bahasa asing semisal Inggris dan masih tetap terdengar seperti bahasa asing dalam ejaannya, dieliminasi semaksimal mungkin dan saya bisa memastikan jika kumpulan kata – kata semacam ini sudah hampir 98 persen dieliminasi dalam karya tulis ini. Semua itu dilakukan demi menyempurnakan corak khas sastra yang berbau bahasa klasik dan elegan, namun diciptakan di jaman modern ini.
Langganan:
Postingan (Atom)


